cool hit counter

PDM Kabupaten Wonosobo - Persyarikatan Muhammadiyah

 PDM Kabupaten Wonosobo
.: Home > Berita > Membentuk Manusia Haji, Membentuk Keluarga Utama

Homepage

Membentuk Manusia Haji, Membentuk Keluarga Utama

Sabtu, 01-09-2017
Dibaca: 493

Muhammad Retas Aqabah Amjad

WONOSOBO.MUHAMMADIYAH.OR.ID- Ma’asyiral muslimin rahimakumullah..

Syukur Alhamdulillah, pada hari yang agung ini, Allah pertemukan kita dalam keadaan berbahagia. Yang diperantauan kembali pulang ke kampung halamannya. Berjumpa dengan sanak saudara, handai taulan, kerabat dan tetangga.  Tapi, tak semuanya ada bersama kita. Andai mereka yang pernah mencarikan nafkah, memberikan makanan yang halal untuk kita itu, ada bersama kita sekarang, pulang dari sholat ini, kita akan ambil tangannya, kita akan peluk tubuhnya. Dia yang dulu mengandung kita 9 bulan 10 hari lamanya, melahirkan kita meregang nyawa. Berapa kali dia tidak dapat sholat tahajud karena kita. Andai dia hadir hari ini, andai dia ada bersama kita, dapat kita ambil tangannya, dapat kita peluk tubuhnya yang rapuh. Oh, ibunda ini hari yang besar. Maafkan salah kami, berikan kami doa-doa mu yang maqbul.  Tapi sebagiannya tak lagi ada bersama kita. Mereka tidak duduk bersama kita. Mereka sudah pindah ke alam yang lain. Senyumnya masih terbayang di wajah kita. Tawanya masih teringat di pelupuk mata. Nasehatnya masih terngiang di telinga. Tapi dia tidak ada bersama kita. Apa yang dapat diucapkan?  Allahumagfirlaha. Allahummagfirlahu. Allahumagfirlahum warhamhum wa’afihim wa’fu’anhum.  Seraya kita mengucap : Rabbigfirli wali walidayya warham huma, kama rabbayani soghiro. Tapi yang mati tak dapat kembali. Maka yang masih ada mari kita datang dan kunjungi. Kita sambung silaturahim.  (Man ahabba an yubsatho lahu fii rizqihi wa an  yunsa’a lahu fii atsarihi falyashil rohimahu). Yang artinya: “Barang siapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya), maka hendaklah ia menyambung (tali) silaturahmi”. [Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhori dalam shahihnya, Kitabul adab, bab Man Bushito Lahu Minar Rizqi Bi Shilatirrahim(10/429)].

Kakak, adik, saudara, handai taulan, dan tetangga, mari kita pererat kembali. Adapun mereka yang sudah menghadap Allah,  “Udzkuru mahasina mautakum..” (Renung renungkanlah, ingat-ingatlah, sebut-sebutlah jasa2, kebaikan2 orang-orang mati kamu) Sebutlah yang baik-baik, sebutlah yang elok-elok, sebutlah yang dapat membangkitkan semangat kita beramal sholih. Mengambil Ibrah idul Adha

Hadirin, kita bersyukur kepada Allah SWT. Tepat hari ini, 10 Dzulhijjah 1438 H kita kembali diberikan kesempatan oleh Allah SWT untuk merayakan, mendapati, momentum Idul Adha. Dalam hitungan khatib yang sederhana,  sebarapa banyak usia yang kita lewati, demikian pula hitungan Idul Adha yang telah kita lalui. Orang yang saat ini baru berusia 20 tahun, maka setidaknya sudah 20 kali ia mendapatkan Idul Adha. Orang yang saat ini telah berusia 30 tahun, maka setidaknya sudah 30 kali ia mendapatkan Idul Adha. Demikian pula yang berusia 40, 50, 60 tahun, telah berulang kali ia merasakan Idul Adha dalam hidupnya. Namun, yang patut kita bersama renungkan, hingga hari ini, Idul Adha yang berlalu dalam hidup kita,  sudahkah kita memahami hakekat Idul Adha ini? Pahamkah kita, mengapa Idul Adha ini mesti tiba? Pahamkah kita mengapa kita mesti menghadiri, merayakan, menikmati Idul Adha ini? Sudahkah momentum Idul Adha yang datang setiap tahunnya, membuat kita meneladani kisah Ibrahim

beserta keluarganya, menghayati ritual ibadah haji dan segala makna dibaliknya? Atau jangan-jangan, Idul Adha datang dan berlalu, tanpa meninggalkan bekas apapun pada hidup kita. Wal’iyadubillah. Maka, pagi ini, kita kembali menarik ibrah dari adanya Idul Adha. Dari diperintahkannya ibadah haji dengan segala makna yang terkandung dibalik ritualnya. Mengambil hikmah dan qudwah dari kisah Ibrahim sekeluarga. Dari prosesi berkurban dan tanggung jawab sosial kita. Mudah-mudahan, dalam waktu singkat dan pemaparan yang sedikit ini, dapat memberikan perubahan kearah kebaikan. Ada spirit kemajuan yang membedakan kita dari hari-hari sebelumnya. Aamiin, Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.

Pagi ini, saudara-saudari kita, para jamaah ibadah haji, sedang menuju ke Mina untuk melangsungkan Jumroh Aqobah, suatu bentuk perlawanan terhadap godaan iblis dan nafsu buruk pada diri kita. Semoga jamaah haji dapat diberikan kesehatan, kekuatan dan kesabaran dalam menjalani rangkaian ibadah haji dan dapat kembali ke kampong halaman masing-masing dalam keadaan sehat walafiat, dan mendapatkan ganjaran berupa Haji Mabrur. Aamiin, aamiin ya rabbal ‘alamin.

Pentingnya Bercita-cita Haji

Ma’asyiral muslimin… Betapa banyak kisah di sekitar kita tentang mereka-mereka yang Allah beri kenikmatan berupa kemampuan untuk melaksanakan ibadah Haji. Ada mereka yang harus menunggu bertahun-tahun hingga akhirnya dapat berangkat ke Makkah. Ada yang harus menabung puluhan tahun, menunggu hingga sepuh usianya, baru Allah cukupkan ia untuk berangkat haji.  Namun disaat yang sama, ada juga mereka-mereka yang belum Allah berangkatkan ke Makkah. Semoga, Allah menguatkan ikhtiar hamba-hambaNya dan membantu cita-cita muslimin wal muslimat untuk melihat ka’bahNya. Berdoa di Multazam. Bertafakur di Arafah. Aamiin ya rabbal ‘alamin. Meski, hari ini kita mungkin belum sampai ke Makkah, belum diberi kenikmatan berupa Ibadah Haji, penting untuk kita bercita-cita dan berikhtiar mewujudkannya. Berharap dapat berangkat haji dan berusaha keras untuk sampai kesana.

Ada kisah mengharukan yang disampaikan K.H Fahmi Idris, tentang seorang tukang becak yang mampu menunaikan ibadah haji dengan usahanya mengayuh becak berpuluh-puluh tahun. Tukang becak itu selalu menyimpan sebagian hasil kerjanya di tempat rahasia di bawah sadel becaknya, dan berlangsung selama berpuluh-puluh tahun lamanya tanpa pernah menghitung jumlahnya. Suatu saat dia mendapatkan firasat jika tabungannya telah mencapai jumlah ongkos naik haji. Maka dicopotlah sadel becaknya itu dan berangkatlah ia ke bank untuk mulai mendaftarkan diri menjadi calon haji. Saat masuk ke bank, satpam yang biasa membukakan pintu para nasabah, merasa heran, dan bertanya kepadanya kenapa membawa sadel beca ke bank ini. Ia juga mengatakan kepadanya gimana nanti mengayuh becaknya lagi?

Kemudian, bapak itu menjelaskan maksudnya bahwa ia ingin menabung dengan uang yang ada di celengan sadel becaknya itu untuk mendaftarkan diri untuk naik haji. Setelah itu, sang satpam langsung meminta maaf, kemudian mengantarnya ke teller dan menjelaskan ke petugasnya bahwa bapak ini mau menabung untuk daftar naik haji. Seketika itulah para  petugas di bank itu antusias membantu membuka celengan di sadel beca dan mereka membantu menghitung jumlah uangnya yang terdiri dari uang lembaran bahkan receh seratusan dengan rasa haru. Patut kita renungkan bersama-sama, betapa banyak orang-orang yang sudah terbilang mapan, atau mereka yang rela kredit rumah dan kendaraan hingga gaji habis terpotong untuk itu semua. Tetapi mereka justru enggan bahkan tidak ada keinginan untuk menyisihkan sedikit pun sebagian hasil kerjanya untuk ibadah haji atau umrah. Nyatalah bahwa ibadah haji bukan perkara miskin atau kaya, tetapi mutlak perkara keterpanggilan hati. Rindulah untuk berziarah kepada Nabi dan mengunjungi Ka’bah. Niscaya akan tumbuh cita-cita dan ikhtiar untuk mewujudkannya.

Membentuk Manusia Haji

Ma’asyiral Muslimin…

Kita juga patut berefleksi. Bagi para jamaah yang telah melaksanakan ibadah haji, sudahkah haji kita memberikan dampak bagi kehidupan kita sekarang dan hingga maut menjemput? Karena dari tanda-tanda diterimanya Haji seorang hamba, adalah semakin baiknya perilaku hamba tersebut. Semakin rajin ibadahnya. Dan semakin bermanfaat kehadirannya di tengah masyarakat.

Syaikh Mutawalli as-Sya’rawi, seorang ulama besar dalam bidang tafsir—dengan karya monumentalnya, Tafsir as-Sya’rawi—dan guru besar Al-Azhar di era kontemporer, dalam satu risalah singkatnya tentang haji mabrur, menyajikan uraian menarik tentang I’tibar (hikmah atau pelajaran) yang bisa diambil dan perlu dihayati dari ibadah haji, dan diterapkan sekembalinya para jamaah haji ke tempat asalnya.

Misalnya saja, selama menjalankan haji, setiap orang dari segala lapisan sosial diperintahkan untuk melepas segala pakaian kebesaran mereka dengan segala pernak-pernik dan perhiasannya, dan menggantinya dengan dua lembar kain yang bahkan tak boleh berjahit (bagi laki-laki). Artinya, haji hendak meneguhkan kesadaran bahwa kekayaan, jabatan, dan status sosial sama sekali tak ada artinya di hadapan Tuhan dan bagi kehidupan yang lebih abadi. Implikasinya, aturan ini juga menjadi pengukuh pesan Allah dalam Al-Qur’an, bahwa perbuatan menumpuk-numpuk kekayaan (at-takatsur) dan akumulasi kapital, terlebih dengan cara yang eksploitatif terhadap nilai lebih (surplus value) para pekerja adalah tindakan sia-sia, dan bahkan mendapat kecaman. Selain karena itu berarti perbuatan zalim terhadap sesama, tindakan itu juga melalaikan manusia dari misi profetiknya di dunia. Hal ini juga berkait-kelindan dengan semangat egaliter yang begitu dijunjung tinggi dalam haji. Semua manusia, misalnya, diwajibkan untuk berseragam “kain ihram”, tanpa memandang latar belakang status sosialnya. Di mata Allah, semua adalah sama. Harta, kekayaan, jabatan, tak lantas membuat seseorang lebih mulia di sisi Tuhan. Tidak ada yang membeda-bedakannya. Hanya ketakwaanlah yang Allah nilai. Dan ihram menyadarkan kita, semewah apapun rumah kita di dunia, ujungnya kita akan tinggal di dalam tanah, di ruang sempit 2 kali 1 meter. Sefasionable apapun pakaian kita hari ini, kain putih-putihlah yang akan menjadi pakaian terakhir kita. Dan semahal apapun kendaraan yang menghantarkan kita berkeliling dan bekerja, keranda adalah kendaraan terakhir yang akan mengantarkan kita. Seorang yang menghayati betul-betul pelajaran ini, selepas haji, tentu akan memperlakukan manusia secara setara. Lebih lanjut, mereka juga akan menolak adanya tatanan yang memunculkan kelas penindas dan tertindas, kelompok yang menghisap dan golongan yang terhisap, dst.

Dengan demikian, seorang kaya yang berangkat haji dengan segala fasilitas mewahnya, lalu sekembalinya ia dari haji, masih tetap dengan hasrat kerakusannya akan akumulasi kekayaan, rasanya hampir mustahil bisa dikategorikan dalam haji mabrur.

Pelajaran lain, misalnya, jika selama prosesi haji, seseorang dilarang merusak kehidupan para makhluk yang ada di Tanah Haram, seperti dengan membunuh hewan atau memotong dan mencabut tanaman, selayaknya mereka juga melakukan hal yang sama ketika kembali ke daerah asal. Mereka harusnya menjadi orang-orang yang semakin menghargai semua makhluk Tuhan, tanpa terkecuali. Terlebih sebagai manusia, mereka adalah  khalifah Tuhan di muka bumi, yang sudah diberi amanah oleh Tuhan untuk menjaga dan melestarikan alam (QS 33: 72).

Maka betapa banyak orang yang melaksanakan Ibadah Haji, namun tidak memberikan bekas sama sekali pada hidupnya. Namun, ada  juga orang-orang yang belum berkesempatan melaksanakan ibadah haji, namun mereka mendapatkan hikmah dari ibadah Haji. Seperti sebuah kisah yang masyhur. Syaikh Zainuddin al-Malibari, dalam salah satu kitabnya, Irsyad al-‘Ibad ila Sabil al-Rasyad, menceritakan, Pada suatu masa, tersebutlah seorang ulama yang bernama Abdullah ibn Mubarak. Suatu ketika, setelah ia menyelesaikan prosesi haji pada tahun itu, dan sudah memenuhi segala rukun dan kewajiban haji, ia memutuskan beristirahat di Masjidil Haram, lalu tertidur di sana. Di dalam tidurnya, ia bermimpi. Ia serasa melihat dua orang malaikat yang turun dari langit lalu saling bercakap-cakap. Salah seorang di antara mereka bertanya kepada yang lain, “berapakah keseluruhan jumlah orang yang melaksanakan haji pada tahun ini?”. Yang ditanya menjawab, “sekitar 600.000 orang”. Yang pertama meneruskan pertanyaannya, “lalu, di antara mereka, berapa orang yang hajinya diterima Allah SWT?”. “Tak ada seorangpun saja di antara mereka yang hajinya diterima Allah. Tetapi, ada seorang lelaki pembuat alas kaki dari Damsyiq (Damaskus), namanya Muwaffiq, yang tidak mengerjakan haji, tetapi ditimpali ganjaran haji oleh Allah SWT. Dan atas berkah diterimanya hajinya oleh Allah SWT, maka diterimalah amal ibadah haji 600.000 orang tadi oleh Allah SWT”, jawab malaikat yang lain. Sampai di situ, Abdullah ibn Mubarak terbangun. Dan dengan segera, karena didorong oleh keingintahuan dan rasa penasaran yang membuncah, ia mengambil keputusan cepat untuk berangkat ke Damaskus. Demi menemui orang yang disebut-sebut oleh malaikat dalam mimpinya. Singkat cerita, setelah melalui proses pencarian yang tak mudah, ia bisa menemukan rumah orang yang ditujunya. Beberapa saat sesudah ia mengetuk pintu dan menjumpai sosok tersebut, ia kontan bertanya, “siapakah namamu, wahai Tuan?”. “Muwaffiq”, jawab si empunya rumah. Setelah merasa yakin bahwa orang di hadapannya adalah orang yang memang dimaksud, Abdullah kemudian menceritakan apa yang disaksikannya dalam mimpinya. Selanjutnya, ia pun menanyakan, “wahai Tuan, apakah kebaikan yang telah kau lakukan, sehingga kau meraih derajat yang luhur ini?”. Muwaffiq, si empunya rumah, dan orang yang namanya disebut-sebut oleh malaikat itu lalu bercerita, “sebelumnya, aku memang sudah merencanakan akan berangkat haji  tahun ini. Aku sudah kumpulkan semua yang dibutuhkan, termasuk uang 300 dirham sebagai bekal di perjalanan, hasil pekerjaanku sebagai pembuat sepatu selama bertahun-tahun. Kebetulan, di hari-hari menjelang keberangkatanku itu, istriku memang sedang hamil.  Suatu ketika, ia mencium bau masakan yang menggugah seleranya (ngidam, dalam tradisi masyarakat Indonesia). Untuk menyenangkannya, aku datangi rumah tetanggaku itu dengan maksud hendak meminta sebagian masakannya. Tanpa dinyana, tetanggaku justru menjawab “tuan, ketahuilah bahwa aku dan anak-anakku yang yatim ini sebelumnya belum makan selama 3 hari. Apa yang kumasak ini adalah daging dari bangkai  khimar  yang sudah mati tanpa disembelih. Sesungguhnya makanan ini halal bagi kami karena darurat (dlarurat  dalam nomenklatur ushul fiqh) untuk mempertahankan kehidupan. Sementara ia haram bagi keluargamu yang mampu mendapat makanan halal.”.”. Aku (Muwaffiq), karena rasa iba yang sangat, setelah menyaksikan kemiskinan tetanggaku, tanpa pikir panjang langsung mengambil 300 dirham tabungan hajiku, untuk kuserahkan pada tetanggaku. Lalu kukatakan pada diriku sendiri, “sesungguhnya hajiku ada di pintu rumahku (rumah tetanggaku), maka kemana lagi aku perlu pergi”. Mungkin berkat wasilah amal itu, amal ibadahku diganjar pahala haji oleh Allah SWT’, ujar Muwaffiq. Apa kira-kira maksud Syaikh Zainuddin menyampaikan cerita tersebut?

Sebagai seorang pemegang syariat yang teguh—ia pengarang kitab  fiqh  yang juga sangat terkenal, Fath al-Mu’in—, Khatib yakin, ia tak hendak mengatakan bahwa haji itu tak penting, dan karenanya tak perlu dikerjakan. Bukan begitu. Tetapi, seorang ahli  fiqh  sekelas beliau saja mengakui, ada yang tak kalah penting dari “sekadar” pemenuhan rukun & kewajiban guna mencapai sah-nya haji. Hikayat tersebut membuktikan, bahwa haji yang kelihatannya adalah ibadah yang sangat personal, tetap tak bisa dilepaskan dari kasalehan sosial orang yang mengerjakannya. Bahkan, seorang yang tak mengerjakan haji sekalipun, justru bisa mendapat ganjaran haji, berkat pengorbanannya terhadap sesama manusia. Dan apa yang dikorbankannya untuk sesama, bisa sama bernilainya dengan pengorbanan yang dilakukannya untuk mengerjakan ibadah mahdhah (ibadah murni/ritual) kepada Allah SWT. 

Satu hadits yang sering sekali dikutip berkenaan dengan haji, menyatakan, “al-hajj al-mabrur, laysa lahu jaza’un illa al-jannah” (Haji yang mabrur, tak ada balasan yang pantas didapatkannya, kecuali surga). Haji mabrur, kita tahu, adalah ungkapan yang kerap digunakan untuk merujuk haji yang “sukses”, diterima, diridhai Allah SWT. Kitab suci dan hadits nabi sering menjelaskan, suatu ibadah bisa disebut paripurna jika ia dikerjakan dengan sepenuh jiwa dan penghayatan, sehingga membawa kesadaran yang akan membuat orang yang mengerjakannya menjadi lebih baik. Jadi, “kesuksesannya” akan tampak justru setelah ibadah itu sendiri selesai. Shalat, misalnya, dikatakan berhasil jika ia bisa membuat para pelakunya menjauhi dan menghindari perbuatan keji dan munkar (al-fahsya’ wa al-munkar). Pun, puasa yang esensial, tutur Nabi, tidak semata dikerjakan hanya untuk menahan lapar dan dahaga (al-ju’ wa al-‘athasy), tetapi untuk mendapat pelajaran dari kewajiban dan larangan selama puasa itu, guna membentuk manusia-manusia yang bertakwa (la’allakum tattaqun). Demikian pula dengan haji, terutama yang disebut

haji mabrur.

Prof. Dr. Quraisy Syihab dalam satu ceramahnya sempat menyatakan, pembuktian apakah seseorang yang berhaji berhasil meraih predikat “haji mabrur” adalah pembuktian sepanjang hayat. Artinya, tindak-tanduk dan perilaku seorang haji, mulai sejak selesai hajinya hingga akhir hidupnya, menjadi tolok ukur, apakah haji yang dikerjakannya telah berhasil mendorong transformasi dan menjadikannya sebagai manusia yang lebih baik, dalam konteks individu maupun sosial. Selain  itu, ibadah haji juga mengajarkan kita untuk membentuk keluarga utama, seperti keluarga Ibrahim. Keluarga yang setidaknya ada 4 pelajaran penting yang bisa kita ambil dari kisah Ibrahim, Hajar dan Ismail.

Membangun Keluarga Utama, Belajar dari Keluarga Ibrahim

1.  Ketaatan dan Ketakwaan total

Pertama, Keluarga Utama adalah keluarga yang dibangun diatas ketaatan dan ketakwaan Total kepada Illahi Rabbi. Nabiyullah Ibrahim ‘Alaihissalam mencontohkan, bagaimana sebuah keluarga yang diabadikan namanya dalam Al-Qur’an, adalah keluarga yang selalu taat kepada Allah dan dibangun dalam fondasi ketakwaan total.   Ketika Ibrahim belum juga diberi keturunan melalui Sarah, Ibrahim tidak menyalahkan Allah namun tetap terus berdoa dan bersabar. Ketika Ibrahim diminta Allah untuk meninggalkan Hajar dan Ismail dan suatu lembah yang tandus, tanpa manusia, Ibrahim dan Hajar juga taat dan patuh pada perintah Allah.   Pun, ketika ujian terberat hadir, ketika Ibrahim diminta Allah untuk menyembelih Ismail, Ibrahim beserta keluarga tetap taat dan bertakwa kepada Allah. Keluarga Utama adalah keluarga yang taat dan dibangun dalam ketakwaan total lillahi rabbi.   Kul inna sholati, wa nusuki, wa mahyaya, wa mamati, lillahi rabbil ‘alamin. Katakanlah, sholatku, manasik-manasikku, pengorbanan-pengorbananku, hidup dan bahkan mati ku hanya untuk Allah Tuhan Seseru Alam.

2.  Saling tolong menolong dalam ketaatan

Ada pelajaran paling penting dalam kisah Ibrahim dan keluarganya. Yaitu pelajaran soal kekompakan dan saling tolong menolong dalam ketaatan. Saling bantu membantu dalam kebaikan. Hal ini yang rasa-rasanya masih kurang dalam keluarga keluarga kita hari ini. Ayah harus menolong anaknya dalam menghadapi dunia yang makin mengkhawatirkan. Anak harus menolong ayah dan ibunya untuk mencari nafkah yang halal. Ibu harus mengingatkan suaminya, agar terhindar dari korupsi dan memakan uang haram. Seperti dicontohkan Ibrahim, Ketika Ibrahim hendak meninggalkan Hajar dan Ismail dan lembah tandus tak berpenghuni, Hajar sembari menatap Ibrahim pergi meninggalkan mereka bertanya, “Apakah ini perintah dari Tuhan kita?”. Ibrahim dengan berat hati karena akan meninggalkan mereka hanya mengangguk. Maka, perhatikan, bagaiman sebuah keluarga saling support dan tolong menolong untuk ketaatan. Hajar pun berkata: “Kalau ini dari Tuhan kita, maka Allah tidak akan pernah meninggalkan hambanya. Pergilah, Allah akan menjaga kami.” Luar biasa. Pun ketika Ibrahim hendak menyembelih Ismail. Bukannya menghalangi ayahnya, Ismail justru berkata meyakinkan bapaknya: “Ayah, penuhilah  perintah Rabb kita, insyaAllah Ayah akan mendapatiku sebagai orang-orang yang sabar.” Bahkan di detik-detik sebelum disembelih, Ismail berwasiat, “Wahai ayah, aku sampaikan beberapa hal : hendaklah ayah mengikat tanganku, agar aku tidak bergerak gerak. Yang mungkin dapat menyakitkan ayah. Turunkan wajahku ketanah, agar ayah tidak melihat wajahku saat itu. Lalu timbul rasa kasih sayang ayah padaku. Tolong ayah lipatkan kain ayah, agar tidak tercemar oleh darah. Tajamkan pisau itu ayah. Dan jangan Ayah ceritakan ini pada ibu. Dan hendaknya ayah menajamkan semuanya, agar proses ini berjalan cepat. Dan Ayah, bila ayah melihat anak seperti aku, hendaklah ayah jangan melihatnya dan membayangkan seperti wajahku, agar ayah tidak susah dan duka.” lalu Ibrahim berkata : “Anakku Ismail, engkau adalah sesungguh-sungguhnya, sebaik baik penolong dalam menjalankan perintah Allah” Keluarga Utama adalah keluarga yang saling tolong-menolong dalam kebaikan. Saling bantu-membantu dalam ketaatan.

3.  Pendidikan Keluarga

Pendidikan keluarga adalah hal yang utama dan mula-mula bagi kita. Ibrahim mendidik Istri-istrinya dengan didikan ketakwaan yang luar biasa, dan ia juga mendidik putra-putranya dengan didikan terbaik. Maka bisa kita lihat buah didikannya pada diri Ismail. Keteguhan sikapnya, berbaktinya kepada kedua orang tuanya, keikhlasannya, kecerdasannya. Pendidikan keluarga inilah salah satu tujuan keluarga utama. Sebagai unit terkecil dari peradaban, keluarga haruslah serius dalam mendidik putra-putrinya. Karena dari keluarga yang baik akan lahirlah peradaban yang baik. Namun sebaliknya, keluarga-keluarga yang buruk, hanya akan merusak peradaban.

 4.  Menyiapkan generasi penerus, estafet perjuangan

Terakhir, Keluarga utama, adalah keluarga yang menyiapkan generasi penerus, sebagai upaya mengestafetkan perjuangan. Anak-anak kita adalah pelanjut dakwah kita. Putra-putri kita adalah penerus cita-cita kita. Pada merekalah masa depan. Ibrahim mencontohkan dengan sangat baik. Dia adalah salah satu manusia yang senantiasa menyelipkan doa untuk anak-anaknya di setiap doa-doanya.  Dan begitulah kita seharusnya. Berdoa dan menyiapkan yang terbaik untuk generasi setelah kita. Mulai sejak memilih pasangan terbaik, mendidik anak dengan didikan terbaik, menanamkan karakter, dan juga terus meningat bahwa merekalah penerus perjuangan kita.  Pada akhirnya, Idul Adha mengingatkan kita untuk menjadi manusia haji seutuhnya. Manusia yang memperjuangkan kesetaraan, persamaan dan keadilan umat manusia. Manusia yang mentafakuri perannya di tengah-tengah masyarakat. Dan manusia yang terus berikhtiar, bertawakkal dan melawan segala bentuk kezaliman, ketimpangan, kemurkaan di sekitarnya. Idul Adha juga mengajarkan kita untuk membangun keluarga utama seperti keluarga Ibrahim. Keluarga yang taat, keluarga yang saling  tolong menolong dalam kebaikan, keluarga yang mendahulukan pendidikan karakter di dalam keluarga, dan keluarga yang menyiapkan generasi penerus untuk estafet perjuangan. Wallahua’lam bisshowab.

Oleh : Muhammad Retas Aqabah Amjad


Tags: Idul Adha, Qurban Haji
facebook twitter delicious digg print pdf doc Kategori: Lokal



Arsip Berita

Berita

Agenda

Pengumuman

Link Website